titik


malam ini dua belas dua tiga, waktu barat. terhenyak sebentar dari rajutan bunga-bunga tidur. kata orang, tulisan saya kurang begitu jelas, tidak begitu terang, tidak terlalu permisif menebar makna mayoritas. tapi begitulah saya, dan terimalah.

titik. jika terdefinisikan dengan sebuah symbol, maka ia terekam dalam balutan kecil yang setiap lainnya berawal. karena goresan pena, persentuhan dengan mediasinya, berawal dari satu titik. jika ia (titik) terhampar dalam satu media, hitam di atas putih ata berbaliknya, atau perpaduan warna kontras satu lainnya, 

maka ia bisa bahkan sudah hampir pasti menjadi talenta, menjadi perhatian, menjadi focus, menjadi sesuatu dalam sesuatu, menjadi pencerita dalam cerita, menjadi a dalam rangkaian duapuluhenam lainnya, menjadi 0 dari bilangan cacahnya. ya, dia menjadikan yang lainnya berbeda.

 dia (titik) sederhana, karena memang dia tidak mau paksakan diri menjadi yang lainnya, tapi dia selalu kontributif untuk memulaikan semuanya ada.ya, dia inspiratif, karena dia memulai, memulai segala sesuatunya. tidak pernah rasanya titik menggugat dirinya untuk diakui, karena dari ia segala bermula. dia tertutup, tidak terlalu ingin tampak, tidak ingin terlalu mengemuka. tidak terlalu sulit untuk bertemunya atau membuatnya, hanya dengan sentikan mata, tap! dia ada. pernah menimbang untuk melihat sesuatu yang jauh, jauh sekali, atau amat jauh?pasti kan saja, dia bermula dari titik yang kecil ke titik yang besar, ke sebuah bentuk, berlanjut ke sebuah jelas, lanjut terus kepada terdefinisi dan termaknai. titik itulah awal, dari sebuah jelas dari sebuah makna. bisa saja titik itu jauh, teramat jauh untuk dimaknai mata namun pada akhirnya, dia akan memberi kejelasan jikasaja diperjuangkan dengan berjuang. 

dalam sebuah gabungan s p o k atau s p saja, titik bisa saja mematikan nya dengan menempatkan dirinya di akhir huruf di pojok sekali. tapi, kita tersadarkan, termaknai, menjadi paham, bahwa sesudahnya kita bisa bercengkrama dengan sebuah awal kembali. kita bisa bertemu dengan huruf diantara yang duapuluhenam, bertemu dengan kata, kalimat dan apabila beruntung, kita akan menjumpa dengan paragraph baru. ya, titik itu pembuka lembaran baru, bisa saja judul baru untuk cerita baru. 

titik juga jadikan berbeda itu ada. melihat sedikit ke barisan hijaiyah dari arab, banyak titik dimana disuka dimakna. dengannya, kita membeda antara satu dan lainnya. dengannya, huruf per huruf akan jauh berbeda tinjauan grafologinya, makna per katanya, dan cerita dari kalimat per kalimatnya. ketika satu titik menghilang, satu titik menjauh dari peraduan, atau satu titik menyelinap dalam satu lainnya, dia berubah. dan perubahan dalam grafologi hijaiayah biasanya tidak akan konstruktif. maknanya ubah berbaur aneh. 

entah bagaimana selentingan titik itu bisa ada menyelinap di benak, di dalam pekatnya nyaman, atau senda guraunya pikir. mungkin saja, titik itu terlempar begitu saja dari ramahnya jari jemari, atau sebuah persingkatan yang paling singkat, atau penemuan yang paling cepat. mungkin juga karena saya ini awal, atau saya ini adalah akhir, atau mungkin saja awal dan akhir dalam konteks yang bersamaan. selalu berharap, titik yang ada bisa menjadi awal. awal penciptaan, awal yang baik untuk akhir yang indah.




dalam keteringatan titik di selentingan jemari sebelah sana.
//rumah banjarbaru, di dua puluh lima desember

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar