bukit layangan


Photobucket

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. aku kecil berjumpa dengan kamu kecil. aku tahu kamu pasti datang dengan membawa ransel kecilmu itu, dan sudah pasti aku juga membawa tas bututku ini. kita tahu dan sama-sama tahu, kalau kita membawa perbekalan masing-masing. kita saling tersenyum saja ketika bertemu sebelum ini. kita membuka bekal masing-masing. kamu di sebelah sana, aku di sebelah sini. tapi hari ini, aku ingin bermain bersama. maukah kamu bermain bersamaku?

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. aku tidak perlu banyak bicara untuk mengajakmu bermain. aku lemparkan tangan kecilku, kamu langsung menyambutnya. sepertinya kita sama. butuh teman bermain. toh, kemarin-kemarin kita sama-sama bermain sendiri. kalau bermain bersama jauh lebih menyenangkan, kenapa jadi harus bermain sendiri. kita sepemikiran. mari kita bermain bersama.

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. kita sama-sama bingung mau bermain apa. ternyata diluar pemikiran kita berdua, kita sama tidak kreatifnya. hehe. tapi bukan berarti kita lewati waktu bermain ini dengan begini saja. aku tahu apa yang menjadi kesenanganmu, sehingga tidaklah sulit untuk membuatmu tertawa lepas. kalaupun sebenarnyakamu masih bilang, aku tidak kreatif membuat suatu permainan, aku langsung berlari menghampirimu. melepaskan jitakan mautku. enak saja kamu bilang tidak kreatif, aku tidak terima! kamupun bisanya cuma terdiam ketika jitakan demi jitakan mendarat di kepalamu. sebenarnya bukan jitakannya yang penting. sesudahnya. kita tertawa lepas bersama lagi. 

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. kamu mengajakku lomba lari. akupun menerima saja ajakanmu, karena katamu juga, yang kalah gendong yang menang nantinya. wah, kapan lagi aku bisa digendong, pikirku. kita berdua mempersiapkan diri, karena yang aku tahu, kamu lumayan jago lari. mulai! kita berlari bersama, mencapai garis finish yang kita sepakati bersama. ternyata kamu tangguh juga, tapi tetap saja aku lebih tangguh darimu. kutinggalkan kau sedikit di depan. sedikit saja. sampai kau tarik tanganku, ah curang! akupun terjatuh, dan kamu sampai finish pertama. curang, curang, curang. tapi kamu tetap saja menjulurkan lidah jelekmu itu, sambil memaksa-maksa digendong, seperti kesepekatan sebelumnya. dengan memasang muka bengisku, kugendong kamu keliling lapangan bukit layangan kita. ternyata kamu ringan saja, hehe. tidak ada salahnya rasanya kugendong kamu walaupun aku menang tadi. dan seperti biasa, kita menyanyikan lagu faforit kita bersama-sama, sambil tertawa lepas. 

que sera sera, whatever will be will be.the future's not ours to see. que sera sera, what will be will be . . .

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. capek juga bermain sepanjang hari. kita buka bekal sama-sama. kamu ambil bekal dari tas ranselmu, aku ambil dari tas bututku. kita saling menjulurkan lidah awalnya, karena kita masing-masing menyombongkan bekal yang kita bawa. tapi ujung-ujungnya, makan bekal bersama-sama ternyata jauh lebih menyenangkan. aku membagi bekalku, kamu tidak lupa membagi bekalmu. jadi sedikit lebih nikmat istirahat hari ini, karena aku bisa mencoba makanan baru. bukan ikan asin seperti biasa. 

suatu pagi, di sebuah bukit layangan. memang ini sudah waktunya pulang. tapi aku ingin mengajakmu. ya, mengajakmu terbang. aku sedikit memaksamu dengan mata mubengku, akhirnya kamu mau juga. kita tanggalkan saja tas ransel kita berdua disini, kita tinggalkan di bukit layangan kita. kita siapkan terbang ini dengan berlari. mari, pegang tanganku, kita berlari bersama. 

lari..lari..lari..terbaaaaaaang!

aku masih memegang tanganmu. ternyata terbang bebas lepas itu menyenangkan ya. lebih-lebih aku bisa terbang dengan menatap matamu seperti ini. sekarang. yang kupunya hanya dirimu. maukah kamu terus terbang bersamaku seperti ini? untuk menua bersama-sama.




mede
//bukit paralayang puncak. di tujuh belas mei


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar