bintik kopi

Photobucket 

sore ini, seperti biasa kembali kunikmati butiran kopi yang berlari di sepanjang gelas putih milikku. ditemani sepotong sendok, yang kulupa punya siapa. lebih tepatnya, pura-pura lupa. sepanjang apa lintasan pacu butiran kopi yang ditawarkan, sepanjang itu juga kuupayakan memburunya. kuupayakan juga ikut berlari bersama.

air setengah mendidih yang kuseduh di ruang tengah seperti sedang berdiskusi di dalam. cukup alot, membuatku sedikit jemu untuk menatap, hanya sekedar menatap hangat yang ia tawarkan. menunggu butir demi butir menenggelamkan diri itu ternyata membosankan juga. kenapa?mungkin karena aku orang yang tidak begitu suka pahit yang butiran kopi ceritakan. aku hanya seorang yang menunggu hasil diskusi singkat antara mereka saja. karena yang kupahami, diskusi akan menimbulkan banyak refleksi, walaupun hanya segelintir saja yang mencapainya.

ada yang menarik dengan aku dan kopi belakangan ini. tidak seperti biasa, aku tidak mengikutsertakan banyak gula. walaupun tidak dapat kusangkalkan, aku masih tidak bisa lepas dari si manis ini. mungkin saja aku sedang mencoba pahit yang sepertinya sangat jarang berlaku, atau mungkin juga manisku keterlaluan sehingga aku tidak begitu tahu bagaimana pahit sedang bercerita, dengan indahnya.


 satu sore, masih dengan pergulatan kopi hitamku.
 //ampera raya cilandak, hari selasa di duapuluhdua mei.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar