kosmetik

aku hari ini dapat kesempatan menyusuri sepanjang kota. Kota tetangga. aku sudah lama disini, tapi kesempatan untuk mencicipi jamuan kota tua ini tidak datang  untuk kedua kalinya. lalu adakah alasan untukku untuk menolaknya? tidak ada.

kota berbau asam ini bukanlah kota yang menarik sebenarnya. sepanjang jalannya, tidak ada aroma lain yang bisa kau sapa, sepertinya memang tampak berbeda. tapi percayalah padaku, aroma mereka semua sama saja. mereka seperti menawarkan kepadamu aroma-aroma  khas yang mereka punya. mungkin mereka membuatnya dengan berbagai campuran dengan rumus-rumus yang mereka formulasi sendiri. mungkin juga, aroma yang mereka cap sebagai milik mereka itu sudah melewati berbagai percobaan-percobaan seperti para ilmuwan hebat pada masanya masing-masing. mungkin. mungkin saja. tapi, sekali lagi aku coba meyakinkan kalian. aroma mereka kelihatannya saja berbeda. mereka semua sama saja.

aku coba menyusuri satu-satu jalannya. di pojok blok pertama,  sekumpulan anak, aku bertemu dengan mereka. mereka bukan anak-anak lagi sebenarnya, tapi mereka jauh dari sebuah kata dewasa. satu yang tidak kusenangi dari mereka. tatapan matanya. seperti mengisyaratkan sebuah panah yang baru saja diarahkan melesat ke hati kecilku. dan ketika kucabut perlahan anak panah itu, bukan di badanku, tapi tepat di tas bututku. mereka tidak jauh lebih pandai dari dugaanku untuk memanah dengan baik. ternyata ada kertas kecil melingkar di ujung panahnya. kulihat.

‘hei, kamu berbeda dengan kami. datang  dari planet mana?’

congkak! padahal yang kudengar kabarnya. mereka disini juga bukan karena uang-uang mereka. ya, karena receh-receh orang miskin yang masuk kedalam kantong uang tua mereka. kuberi nama saja mereka anak-anak orang kaya termiskin di dunia.

sudahlah, untuk apa aku berlama-lama dengan miskin-miskin berbahaya itu. aku berjalan lagi. blok selanjutnya, aku tidak menemukan banyak interaksi disini. setiap orang penduduk ini duduk di pojok-pojok setiap toko-toko kecil yang mereka klaim pojok milik diri mereka sendiri. dengan computer jinjing, satu paket dengan paket internet yang sudah mereka anggap seperti tiket untuk melancong ke negeri mana saja. aktivitas mereka juga tidak banyak. mereka gunakan software untuk memperbaiki penampilan mereka. software penghilang jerawat, software pembuat bingkai hidup, software pengaturan cahaya untuk memaksakan muka hitam mereka menjadi sedikit lebih terang. ya, setidaknya mereka bisa bernampilan lebih baik. walaupun hanya di dunia maya.

bosan aku cuma berjalan-jalan saja. kuputuskan  mampir ke dalam sebuah toko besar. katanya, toko ini khusus untuk wanita saja, tapi ternyata banyak juga laki sepertiku yang masuk begitu saja. dalam sini cukup banyak yang kutemui. ada yang tersenyum, ada yang tidak. seorang wanita, umurnya sekitar duapuluhan. kami bertukar mata bukan secara langsung, lewat kerjasama kami dengan cermin besar di depannya. dia sedang berdandan ternyata. dan dia ternyata sudah disana dari pagi, padahal ini siang hari. katanya warna pakaian atasnya masih belum bertemu pasangan pakaian bawahnya. ada-ada saja.

toko besar ini punya banyak toko-toko kecil. toko yang kuingat, ada beberapa. ada toko yang menjual emas, yang katanya kalau memakai emas dari tokonya, tidak ada yang melihat tanpa berkedip ketika kita mengenakannya. ada juga beberapa butik pakaian. seingatku, tidak ada satupun butik yang menyelesaikan jahitannya dengan baik. ada yang masih belum selesai di bagian punggungnya, ada yang bagian kanankiri lengannya tidak sama panjangnya, ada yang masih bolong di bagian perut. tapi ternyata penduduk di blok ini menyukai pakaian-pakaian belum jadi itu. ya sudahlah. ada satu toko yang cukup menarik, mottonya, ‘menghilangkan segala kekurangan fisik yang kamu punya’. cukup mengejutkan. bukan karena mottonya, tapi karena toko ini sudah menyusul tuhan. baru saja. ini toko kecil terakhir.

kota berbau asam ini ternyata luas juga, padahal aku hanya melintas sepanjang garis lurus saja, belum ada belokan yang kujalani. mungkin saja, masih saja banyak lagi sesuatu yang lainnya.  dan aku. berakhir di sebuah bus kota tua. rasanya lebih tenang di dalam sini, mendengarkan receh-receh kondektur yang meminta uang perjalanan, bau karat dari kursi besi tempat dudukku, bercampur baur dengan bau keringat para pekerja kota satunya. duduk dengan tatapan hangat dari setiap penumpang jauh lebih menyenangkan dari sepanjang perjalanan tadi. aku tidak perlu memasang headset ku, karena sudah ada penyanyi-penyanyi jalan dengan petikan ukulele senar tiganya. dengan lagu tentang cerita hidup yang sebenarnya.

kupejamkan mata. kudongakkan kepala. kuhirup aroma bus kota tua. kudengarkan kudapan sore hari berupa lagu dari ukulele mereka. rasanya bebas saja.




dalam hiruk pikuk kota tua jakarta. lelah menyaksikan
//petak nomor dua satu, cilandak. di sore, di duapuluh delapan mei.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar