pelabuhan akhir

katanya,
pelabuhan itu tanpa nama,
indah, nyaman tentram dan menyejukkan.
aku berlayar,
terus berlayar pecahkan ombak-ombak yang tidak tahu sebesar apa,
walau dengan seonggok perahu,
yang kutahu sudah tak tahu rusak berapa.
kupertahankan tangan ini,
agar tetap pada iramanya,
kupertahankan kaki ini,
agar tetap melangkah fana,
kupertahankan sepatah badan ini,
agar terus mengayuh, mengayuh, mengayuh, mengayuh.
ayo.
semangat yang tidak tahu kapan dimulai.
yang lebih tidak tahuku kapan terus bertahan, bahkan selesai
ya.
aku harus sampai pada pelabuhan itu.
karena disana, “katanya”
indah, nyaman, tentram, meyejukkan.
aku lupa,
aku lebih dari seonggok dosa
lebih hina daripada muna
aku lupa,
aku tanpa nama
tanpa nyawa.



bergerilya bongkar muatan laptop,ditulis entah kapan

 -maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar