antara hitam dan putih


hari ini kutumpahkan semua dalam bentuk kata karena aku rasa tak berarti kalau tumpahan itu hanya dari air mata, toh tak pernah aku merenungi air mata itu menjadi rincian kerja nyata.
hari ini kulihat jamtangan ku menunjukkan pukul 13.04, ya tengah hari lah kata lainnya. aku makan, berserakan, keramaian, entah berapa banyak yang ikut bersantap penuh suka, katanya. aku rasa sedikit berbeda, walaupun sebenarnya sudah kulakukan hal ini berkali-kali, berulang kali dan sekali lagi berkali-kali. entah itu kesadaran, entah itu komitmen pasif seperti biasa, atau mungkin yang lainnya.
ya, dzuhur ku untuk kesekian kalinya kulalaikan. dan tidak ada satupun yang berani menegurku, waktu shalat sudah tiba. padahal kewajiban itu ada di aku. tapi, ya selama itu tidak teringatkan, tidak akan ada yang bergerak, tidak ada yang peduli, tidak ada yang akan merasakan bahwa yang namanya ketepatan itu utama bukan yang kedua, ketepatan itu kewajiban bukan sifat alimisme, atau apa lah kau artikan dia. tertunduk diam dalam segala keramaian yang terciptakan, dalam sebuah ruangan yang tak kutahu bagaimana proses pengerjaannya, yang tidak kutahu kemana berlarinya uang keping dan kering itu.
yang kuterima hanyalah sebuah gerilya tanpa makna. karena aku tidak tahu apakah ini ada, atau sebenarnya tidak ada. setiap gerilya sebenarnya harus kumaknai dengan jelas, tepat, dan lain semacamnya. karena setiap makna akan ditanya.
benci aku dengan modernisasi ini karena dia yang pudarkan dia. benci aku dengan segala aroma-aroma tak beriak yang tak tahu riak-riak itu tercipta. aku ingin dia ada, dalam hatiku. tapi dia renovasi, konservasi, transformasi makna yang kupunya sehingga aku seolah tiada.
argh! benar, kenapa kau tertutupi dengan riak-riak itu. apa ini salahku yang coba angkat kau ke permukaan. atau mungkin aku yang mendukung riak-riak itu tetap jaya, tetap berdiri basmi benar itu. atau mungkin aku yang terlalu lemah untuk menaikkanmu?

-maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar