mattompodalle


 sebuah cerita, berbagai makna didalamnya. sebulan rasanya saya menginjak mattompodalle, sebuah lapang di daerah kabupaten takalar, tanah ujung pandang. bertemu berbagai pengalaman, berharga, penuh warna, penuh kekuatan, penuh ceria, penuh banyak sederhana bagi saya yang lumayan awam ini.

sederhana. sepertinya ini kata kuncinya. ketika kau temukan sederhana yang terstruktur secara tentram beraturan, maka akan kita genggam suatu kekuatan tak terbatas, tapi tidak menyombong sehingga akan jadi tidak tak terbatas. ya, begitulah sederhana yang bertemu saya di mattompodalle. ketika sederhana menjadi tidak dibuat-buat, ketika sederhana mengalir deras begitu saja, menyejukkan, ketika sederhana itu menjadi maksimal, dan semoga ketika sederhana itu tidak menjadi berantakan dengan keberadaan kami.

ya, kami disana dalam rangka praktek lapang. katanya ini tugas implementasi mata kuliah per mata pelatihan yang kami sulam dalam rajutan ikat selaput otak, yang setiap dua semester rasanya. ya, entah tercapai apa tidak tujuan implementasi itu. karena, rasanya, yang kami bawa ketika itu hanyalah senjata andalan kami, keramahtamahan dan sepasang senyum yang siap untuk terlemparkan bagi siapa saja. yang rasanya tidak akan jemu ketika kami mulai menjual senyum per senyum, bagian per bagian, ha!

katanya, sebelum kami menelisik lebih dalam, kata banyak orang mattompodalle, kami ini keras, tegas, muka sedikit sangar menuju bengal, apalagi ditambah dengan baju seragam yang sedikit mirip ppp, yang berurusan dengan kaki lima dan senantiasa dibumbui dengan sedikit teriak dan keras. wajar dan mafhum rasanya, melihat beberapa adegan di layar, beberapa tulis di surat kabar, beberapa celotehan berbau negative mengundang tentang kami. tapi, kami sekarang dan nanti akan menjadi tetap seperti ini, penyebar senyum beriring sapa dengan sedikit ramah :)

namun, focus tulisan ini bukan kami tapi mereka, ya, mattompodalle. mudahan dengan berpisahnya kami, kami dan mereka bisa membaur menjadi kita. ya, kita, bersama. kami datang. ternyata senyuman kami kalah dengan kepemilikan mereka. ramah kami kalah dengan ramah gaya mereka. bahkan sederhana imitasi yang sudah kami rancang, masih berbanding terbalik jauh dengan sederhana orisinal racikan lama mereka. whhh. senang rasanya ketika sederhana itu mengalir begitu saja, mengalir dengan indahnya, mengalir dengan lakunya, mengalir dalam katanya, mengalir dalam bentuk perhatiannya.

mudahan, saya tidak akan melupa, saya pernah meninggali sebuah rumah sederhana. menimba beberapa air mandi, terjaga akan selentingan celotehan nyamuk untuk mengumandangkan subuh, sedikit memperdengarkan surat yasin bersama ibu di dapur, mencerita sore hari tentang kehidupan-kesederhanaan-bahagia, mendapati bapak ke sawah, mengantarkan si kecil pergi berangkat sekolah dasar, mengantarkan si besar berangkat masa orientasi, menemukan bapak ibu sedang berlomba memasukkan beras ke dalam botol, berjalan sedikit ke kampong sebelah-kampong nya ibu, menghangatkan diri dengan pelukan dan ciuman si kecil yang mulanya malu dan akhirnya mau, ke pesta keramaian bersama bersuka ria, bertemu para gadis tetangga yang mesem-mesem asem, ha!, menjalani setapak sawah, berkeringat, motor laki yang tidak begitu lelaki, motor bini yang sangat lelaki, kaya! kaya kita akan pengalaman dan makna bagi yang awam.

berbuat. kata kunci yang berikutnya, yang sedikit tepat. ketika kita terlalu banyak merencana, menyusun, memikir, kita terkadang terlalu melupa untuk terus berbuat. padahal berbuat lah yang akan memaksa sedikit ubah, merubah dan terubah. walaupun pikir dan rencana memang penting, namun tanpa berbuat, semua akan menjadi fana saja. seperti kata-katanya adagium, visi tanpa aksi hanya akan menjadi mimpi. aksi tanpa visi hanya akan menjadi petualangan liar tak terbayar. hanya dengan visi dan aksi lah akan terjadi perubahan yang berarti. seperti itulah interaksi visi dan aksi, tak ayalnya seperti interaksi pikir dan berbuat, interaksi rencana dan berbuat dan interaksi antara semua dengan suatu perubahan.

di tempat ini, di ladang persawahan ini, di sesuatu sederhana ini, di mattompodalle, saya menemukan banyak berbuat, yang tidak dibuat-buat. satu menolong yang lainnya, dan yang tertolong selalu memaksakan diri untuk menolong juga. semuanya saling mendekap, menjadi satu kekuatan, yang menjadikan mereka, hidup!
saya tutup saja dengan senyuman lebar, senyum kehangatan dari mattompodalle.
:)




mengingat-ingat yang penting harus diingat
-maidiyanto rahmat-

2 komentar: