satu sujud

di satu waktu, terjerembab dalam sebuah tahyatul masjid. air mata menjadi ringan untuk ditawarkan. mengalir saja seperti aroma pagi itu. entah apa yang mata ingin sampaikan hingga ia mengirimkan air kepada satu pribadi. yang tidak tahu makna, tidak tahu arti, tidak tahu diri.

aku sudah terlalu lama tidak bercengkrama. dengan sujudku. dengan air yang ditawarkan mata. dengan makna yang ingin berbagi. ya, semuanya karena si aku masih saja tidak tahu diri. tidak coba memakna apa yang sudah terlepas dan dilepas. tidak tahu apa, mengapa, bagaimana. sujud yang entah aku merindu atau tidak, yang entah menawarkan jawaban atau hanya sempadan antara fakta dan makna, entah. entahlah.


sedu sedan terasa sebentar saja. aku sebenarnya ingin melarutkannya dalam nyata sehingga setidaknya ada makna yang menyeruak masuk. masuk ke dalam hati, tepat disini. karena ketika hatiku sudah disapa makna, walau sebentar saja, walau sedikit atau sempit, setidaknya ada kilah yang bisa kutebas. harapannya, kilah bisa kutebas habis, tapi nyatanya ia terlalu bereuforia, seperti bergiat dan semakin menggiat menembus pikir, hati juga.

teringatku pada sujud ibu. sujud di setiap dhuha, setiap aku menyaksikan dengan mata-entah mata hati. siapa yang tahu, siapa yang mengerti, siapa yang memakna bahwa dia sujud untuk sebuah harap. harap yang harapnya lahir dalam setiap langkah, setiap membesar pada pribadi turunannya. sujud untuk sebuah cita. sujud untuk sedikit gertakan untuk para penonton yang entah tergertak atau tidak. sujud dalam sebuah sujud.

terpintasku pada sujud di mushola kecil yang sebenarnya besar. ketika masing-masingnya beramai mencari air mata berbau makna. mencari jawab dengan sedikit harap. berharap jawab yang ada mampu mencipta makna. sehingga makna bisa membaur nyata dalam fakta. ketika kita, bukan, mereka saling menatap, saling berlomba, saling meneruskan pencarian makna, saling menebas kilah, saling rangkul, saling membantu, saling menatap berbagi harap. aku hanya menonton di pojok sebelah kiri. ya, setidaknya aku sudah menjadi penonton yang baik. penonton. menonton. sesekali mengomentari.

terperangahku pada seorang saudara. yang begitu tenangnya melakukan, melakukan dan melakukan lagi. sendiri, dengan irama dan ritme pribadi. cukup lengkap baginya. ditambah aroma pagi, semangat siang, senyuman senja, dan ketentraman malam hari. tidak perlu mereka, setidaknya dia menciptakan gaya nya. gaya miliknya.

aku rindu satu sujud- satu sujud selanjutnya. satu sujud yang tawarkan cerita baru, makna baru, warna baru. kenapa aku begitu enggan mendekatinya?entah apa.



dalam kilatan air mata, tanpa makna, tanpa cerita
-maidiyantorahmat-

3 komentar: