kata dan bicara

kita mulai saja hitam diatas putih ini. karena, ketika bicara belum hiper aktif atau proaktif atau (bisajuga) aktif saja, maka lengkungan garis yang tersepakati menjadi tanda, menjadi isyarat, menjadi makna sehingga setiap orang yang memperhatikannya akan menjadi makna, yang sama tentunya.

sebut saja  yang kita tulis ini kata. tulisan akan menggempita jika ada paragraph yang berhadir nyata. paragraph akan mengemuka, ketika kalimat menunjukkan mukanya. kalimat juga akan berunjuk, jika ada kata. ya, kata yang memberikan cerita, kata yang mengemuka sebuah tulisan, kata lah yang berkontribusi untuk sebuah makna.

ungkapkan apa itu kata, kata bisa saja tersurat; tidak atau belum tersirat. ketika itu, kata hanya tergontai dalam lengkungan-rataan-gelombang garis yang tersepekati. huruf i kecil adalah gabungan sebatang garis lurus dibubuhi lingkaran kecil sangat yang terdefinisi sebagai titik. walaupun tidak semuanya juga bersepakat namun setidaknya, mayoritas manusia dunia mengakuinya. karena kata-kata yang tersirat inilah ada karya, ada yang tertinggal setelah ada yang meninggal, ada yang tersisa ketika pemiliknya sudah tiada. karenanya, adalah sesuatu yang baik ketika kita putuskan untuk menorehkan makna di kepala kita dalam untaian kata demi kata. tidak ada sesuatu hal yang salah ketika makna milik kita tidak seberaturan, tidak seindah, tidak serapi, atau tidak sesempurna milik yang lainnya. istimewa ketika kita punya karya berupa kata (yang tersurat)!

ketika kata sudah berupaya untuk mengemuka sebagai yang tersirat, di saat itulah ia merenovasi diri, bertransformasi sebagai suatu zat bernama suara. dalam mainstream makhluk dunia, informasi-data akan lebih cepat diterima ketika ia berupa suara, tidak berupa kata. suara bisa saja mengubah dunia ketika ia menjadi kepemilikan sang penguasa. suara bisa saja hanya seperti debu pasir yang langsung terenyuh ketika ditantang angin ketika ia hanyalah milik rakyat jelata. suara bisa saja menjadi obat gulana ketika dentuman demi dentuman berbaris rapi menjadi melodi. ya, suara berkontribusi lebih aktif untuk sebuah perubahan karena yang menangkapnya adalah si daun telinga yang katanya selalu menang kompetisi pencarian makna, bukan data. 

bicara, tentu harus ada makna karena makna yang tidak mengikuti bicara,itulah sia-sia. bicaralah dengan sebuah sistem yang bertujuan akhir pada pencapaian makna dan perubahan. tidak bersalah kita menggempita bicara dengan sedikit kata-kata yang tersurat untuk disiratkan bahkan lebih baik tepatnya. terlebih ketika kata milik kita, sudah tersiapkan baik-rapi-jeli-kena untuk para penangkap makna. banyak dari kita yang bicara, tapi tidak berkata dengan makna. banyak kita dengan bicara yang spekulatif involutif,  sekonyong-konyong, dekonstruktif, asal tanpa usul, dan semacamnya dan sejenisnya. tidak ada perubahan yang akan bernilai, berarti, berkontribusi positif  ketika kita bicara, tanpa makna, tanpa kata per kata. bicara bahkan bisa bernilai hiper negatif ketika niat mulai rusak berhamburan untuk sebuah involusi terwujud dalam pembunuhan kata milik orang lain.

bicaralah dengan kata dan makna untuk membangun sebuah konstruksi yang positif





terinspirasi dari film king’s speech ketika berlama tidak menyaksikan gambar bergerak
-maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar