dia

semakin berlarut-larut saja rasanya. semakin merasa bahwa nyaman itu ada, sedang bergerilya, sedang bercerita dengan lugasnya, disini, di hati dan tepat tempatnya. coba mengingat dulu ketika masa muda, masa masanya masih berdecap dengan sedikit cakap, rasanya nyaman ini belum pernah ada apalagi menggempita seperti ini. ya, tepat, karena dia.

katanya, dia sederhana, memang seperti itu rasanya. katanya, dia itu tidak seberapa, kalau dilihat muka dan rupa, benar adanya, tapi tetap hati ini bilang dia istimewa. mungkin ada yang sedikit berkata, dia itu sama, jelas salah, dia itu berbeda. berbeda. berbeda. berbeda dan istimewa.


dia, datang dengan membawa nyaman itu. membuat langkah dan derap saya sedikit ringan, ini faktanya. dia, datang dengan sederhananya dan perhatiannya, sedikit membawa saya dalam rajutan semangat, bahwa hidup itu ada walaupun dengan sedikit gegak gempitanya dan sedikit polesan kejengahannya. dia, terus berkata, bahwa diri (dia) belum ada apa-apanya, belum ada berbuat karya, belum ada laku perbuatan yang pantas untuk saya bangga akan diri (dia). rendah hati - bukan rendah diri – jelas adalah kepemilikannya. dia, entah mengapa jadi istimewa di saya, di mata saya, dalam setiap rajutan kedipan mata, rambatan darah di setiap fakta yang ada. dia terus bawakan saya seperangkat senyum, beberapa lembar semangat, sedikit asa. terus, setiap saat. bahkan, kadang, tepat ketika saya sedang membutuhkan perkakas-perkakas harapan itu. terkadang saya juga sebaliknya, saya yang melemparkannya untuknya.

dia, itu ladang cerita. karena saya sedikit sepaham dengan nya, bagaimana menjadi ladang cerita yang lapang dan tidak gersang. atau mungkin juga, dia diciptakan untuk jadi ladang saya, dan saya ladang untuknya. setiap kata yang mengemuka atau sedikit bergerilya, walaupun kadang kata itu usang bagi mayoritas manusia, tapi kata itu menjadi istimewa. ya, karena kata itu datang  dari dia, dan kata itu datang  dari saya, untuk saya dan untuknya.
ingin rasanya membalut dia dalam sebuah ikatan, tapi, saya harus tersadarkan bahwa dia itu istimewa, dan berbeda. ingin rasanya dapat memberikan perhatian tidak hanya dengan pesan-pesan tetapi dengan kesan-kesan yang dibubuhi laku nyata. ingin rasanya memberikan kehangatan, memberikan apa yang seharusnya diberikan dari yang menyayang kepada yang disayang, namun sekali lagi tapi, saya dan dia belum apa-apa, belum menjadi siapa-siapa satu dan lainnya. terlebih saya untuknya, adalah jelas belum apa-apa.

pada akhirnya, yang saya bisa, adalah harap dalam setiap cerita. walaupun, jujur,  kadang saya takut dia akan bosan dengan saya yang begini atau begitu saja, tidak berubah dan merubah sesuatu entah itu apa. mudah-mudahan, partikel bosan itu hanya menjadi usang, usang yang tak pernah ada bahkan. karena, ya karena saya takut kehilangannya. jagakan dia untuk saya ya rabb.



dalam pergulatan yang rasanya baru kali pertama
-maidiyantorahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar