pribadi

pribadi. dunia ini penuh dengan pribadi-pribadi, dengan multifaset dan multikulturnya. dengan multifisik dan multipersonalitas kepemilikannya. ya, jelas, tegas bahwa pribadi itu tidak sama, beda, multifaset, dan dia berdiri satu-satu, sendiri dengan realita independensi setiapnya. kalau ada argumentasi, mungkin ada yang melebar menjadi hipotesa, bahwa, ada pribadi yang sama di rata dunia ini, jelas salah dan ketika berlarut-larut akan menyalahkan. jelas, setiap pribadi itu beda.

setiap (pribadi) nya itu merdeka, tanpa keterikatan, sibuk dengan kata bernama kebebasan. dia (pribadi) seperti interaksi kelas kata nomina dengan kata tidak, ya, berdiri sendiri-sendiri. setiap pribadi itu sudah pasti punya unik yang bergerilya atau sudah mengemuka. jadi, jangan katakan setiap pribadi hanya punya kurang, tapi dia pasti punya unik yang tidak dipunya yang lainnya. bicara pola pikir, pendapat dan interpretasi, pribadi pasti punya yang beda dengan yang lain. walau mungkin hampir sedikit lagi terjadi sama, pribadi-pribadi pasti punya egosentrisme untuk berbeda. dan, egosentrisme untuk menginterpretasi sesuatu itu adalah sesuatu yang lumrah dan tidak dapat terhindar. multiplisitas perspektif, multiplisitas pilihan, lazim!
jangan; hindarkan; jauhi ; depersonalisasi terlalu berinteraksi dengan kita. terlalu mengemuka sehingga setiap pribadi menganggap dirinya tidak memiliki identitas pribadi untuk dibela dan bereuforia. jangan, karena kita berbeda kemudian kita intimidatif satu dan lainnya. sehingga, ada yang mengemuka tapi teramat banyak yang menghilangkan dirinya. cari saja, pribadi-pribadi lain yang (hampir mendekati) sama dalam interpretasi, berargumentasi sehingga pribadimu akan merasa nyaman di dalamnya.
pilihan adalah kepemilikan setiap pribadi. ada adagium berkata-kata, 'hidup itu pilihan, tentukanlah pilihan hidupmu atau pilihan yang akan menentukan hidupmu'. terserah pada pribadi mau reseptif atau falsifikatif terhadap adagium terucap tadi, itu pilihan. kalau dalam hemat saya, pilihan untuk hidup itu harus tersegerakan. karena, hidup itu terlalu singkat untuk dideskripsikan, diinterpretasikan atau diperdebatkan. setiap pribadi adalah merdeka untuk memilih, apakah dia memilih makna yang menghegemoni warna, atau warna yang menghegemoni makna, untuk hidupnya. sepertinya, keseimbangan warna dan makna menjadi pilihan terbaik, bukan dominasi warna juga dominasi makna. maka (menurut hemat saya), tentukan sekarang, bukan esok, dua hari lagi, empat puluh satu minggu lagi, bahkan setengah abad lagi. sekarang! dari kecil dan sederhana, dari setiap pribadi. tapi, sekali lagi, itu pilihan setiap pribadi. 
seperti terdeskripsi di atas, pribadi itu punya potensi, punya lebih, punya positif dalam diri. di ujung satunya, jelas bahwa setiap pribadi punya limitasi, punya kurang, punya negative dalam setiap dirinya. karena, tuhan pasti ciptakan lebih dan kurang, positif negative, itu untuk adanya seimbang yang akan menaikkan atau menurunkan, memotivasi atau mereduksi setiap pribadi. oleh karena, tanpa lebih dan kurang, kita sebagai kumpulan pribadi dalam singkat dan sempitnya dunia ini tidak akan bergerak, berproses, tidak ada alasan untuk menjadi dinamis dan terus menerus bereuforia untuk masing-masing kita. karenanya, reseptiflah terhadap lebih dan kurang setiap pribadi. tanpa reseptif, akan terus terjadi konflik. beruntung kita kalau konflik yang terjadi konstruktif, alamat kalau dia berwujud destruktif. janganlah kita, partisipasi proaktif dalam destruktif. kecuali, kalau kamu memilih untuknya.
singkatnya, setiap pribadi punya bebas dan punya merdeka, untuk bereuforia , untuk pribadinya.

dalam muliplisitas, perbedaan dan konflik internal dan eksternal
-maidiyantorahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar