menulis saja


diatas jam sepuluh mendekati jam sebelas. ya, hari ini ulang tahun kaka yang selalu direpotkan olehku tapi tetap menyemangati si usang ini. sendiri dalam ritme keyboard yang tidak tahu arah. entah kenapa jari terasa ingin dipicu untuk menuliskan segalanya. dan akhirnya terluapkan
tidak terasa, seminggu atau dua pekan atau entah mulai kapan, hati ini mulai menyesak layaknya abu-abu yang selama ini terpikirkan. sebenarnya, masalah itu tidak terdefinisi dengan baik ya jadinya, penyelesaian pun tidak sampai pada ujungnya. hati sesak. mata mengkelakar. pikiran senantiasa bergerilya, entah sampai kemana ujungnya.
korbannya, ya lingkungan sekitar yang senantiasa memuja saya dan segala ‘kelebihan’ (baca:keterbatasan) . ya, tepat sekaligus benar. saya selalu berupaya menilai orang lain. apa masalahnya. ada yang bisa saya bantu. apa yang saya anggap saya lebih dari dia, dan harus ada. kan saya orang yang penuh keterbatasan (baca:kelebihan), yang tidak pernah mengenal istilah limitation. selalu merendah di depan orang lain belum tentu menjudge saya seperti itu. dan mungkin saja saya merasakan sebaliknya.
kadang terpikirmjuga, kapan saya bisa menyelesaikan segala macam permasalahan yang saya miliki dengan tangan saya sendiri. dengan pikiran saya sendiri. dengan badan yang (teramat mungkin) lapuk oleh dosa ini. ya, tepatnya. seperti saya memperlakukan orang lain.
kadang  terpikir juga, kenapa (rasanya) tidak ada yang memperhatikan diri yang rentan ini sebagaimana saya memperlakukan (mereka). entah mereka siapa yang saya maksud tapi jujur. saya merasa tidak adil. tapi, apalah artinya ikhlas yang sudah saya niatkan kalau seperti itu adanya. apalah artinya segala dan semua kalau saya  meminta balik.
kadang terpikir juga (lagi). kenapa sebenarnya saya harus seperti ini. seperti itu. harus begini. harus begitu. terasa lelah si otak kecil picik ini berpikir tapi tidak terlalu berarti.
akhirnya. luapan tulisan ini pun menjadi landasan pacunya. gelombang kata ini menjadi pelontarnya. dan ritme jari tangan menjadi eksekutor dari segala cuap dan ucap yang tidak pernah niat untuk terlontar. ya, biarlah semua melihat. biarlah segala makhluk bercuap terhadap lontaran kata (busuk dan menusuk) ini.  biarkan semua tahu apa yang tidak tampak dan tidak terlihat. biar semua tahu. biar semua tahu.
ternyata ritme menulis saya seperti ini. tulis apa adanya, terserah bagaimana gaya renangnya yang penting kau dapatkan ujung yang tidak pernah kau perkirakan. aku memaksa humoris. aku memaksa puitis. aku memaksa agamis. aku memaksa melankolis. aku memaksa patriotis. tapi tidak. aku ya aku. aku menulis dengan gayaku. gaya yang kubuat sendiri dan tidak ada yang boleh samai. ya, seperti insting alami yang kupunya. aku memang berbeda dari orang lain.
aku tidak tahu dan mungkin sekaligus tidak mengerti, kapan dunia seperti ini akan berakhir. kapan aku punya teman atau apa lah namanya yang tahu apa sebenarnya masalah ini. teman yang katanya menjaga dari belakang, merangkul dari samping, memeluk dari depan. aku tidak perlu semua itu. kalaupun kau tikam aku dari depan tapi kau anggap aku ada, semua tidak masalah. toh aku biasa dengan sendiri dan biasanya juga begini.
diatas komputer dari bapak ini, kucurahkan segala yang menyesak. aku tidak begitu apa yang terlontar dari kata-kata tapi seperti itulah yang aku punya.

-maidiyanto rahmat-
diatas kursi dengan sedikit robek, di barak sempit yang rapi (bukan karenaku).
10.55 am – dengan sedikit harapan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar