selamat ied

bismillahirrahmanirrahim.
 

happi ied.
saya benar benar atas nama pribadi tertuju kepada semua yang merayakan mengucap.

selamat hari kurban empatbelas31 hijriah.

takobbalallahu minna waminkum

tidak tahu apakah tradisi maaf memaafkan itu adalah sesuatu yang benar, ataukah kurang benar atau tidak benar. maaf bisa setiap hari rasanya, kalau kita terlalu fokus pada hari, teramat yakin saya pasti momen saling memaafkan hanya terlintas pintas di dalam benak dan teramat tidak sulit untuk berlalu begitu saja.

momen sebentar harus menjadi pelontar bagi diri ini. momen yang tepat sebenarnya untuk membuat dan memaksa diri ini untuk berkorban. berkorban keringat. berkorban tenaga. berkorban dana. berkorban perasaan. dan pengikutpengikut berkorban yang lain. saya menilai dan berpikir kritis bahwa budaya berkorban di negeri bernama indonesia ini teramatlah sangat sempit. sangat kecil. sangat malu. sangat minimalis. ah, kalau bisa berpikir untuk tidak berkorban kenapa tidak. kalau bisa tidak berbuat kenapa harus berbuat. kenapa jadi seperti ini sebenarnya anak negeri tanah air ini, padahal ingat dulu berkorbannya pahlawan untuk kemerdekaan. padahal ingat dulu peluh keringatnya bung karno. padahal ingat dulu berkorbannya suharto dan pengorban-pengorban yang lain. mereka bisa tampil di depan, berdiri, merdeka karena mereka memutuskan untuk berkorban. pertanyaan yang tersedak pada otak ini, kenap kita tidak mulai (berkorban).

bicara idul adha, kita ingat nabi ibrahim yang mengorbankan anaknya ismail karena sudah perintah Allah. berpikir, terlalu hebat niat berkorban ibrahim, bapaknya nabi-nabi sehingga mengalahkan rasionalitas berpikir. ya, selama itu perintah tuhan, wajib tanpa koma dengan titik untuk melaksanakannya. mulailah berpikir kembali, melihat ke dalam diri sendiri, bahwa diri ini terlalu payah untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajiban. lupa diri dengan kewajiban. lupa diri dengan sesuatu seharusnya. lupa diri dengan jelas larangan. lupa diri ada yang dipertanggungjawabkan. lupa diri kalau kita disini, memijak bumi karena ada tuhan. tapi, ya beginilah. hanya bualan kata-kata tanpa realisasi positif yang berlangsung.

mari kita menilai idul adha. setidaknya ada beberapa poin penting yang disampaikan idul adha kepada kita. pertama. idul adha itu pemerataan kita di hadapan tuhan. semua tahu. kelilingi kabah dengan kain ihram, tanpa helaian yang lain. semua sama. semua rata. tidak tahu kau rockandroll atau pop alternatif. tidak tahu kau seorang dentist atau pedicabs. tidak melihat kakimu satu atau tanganmu dua. semua tidak melihat semua. hanya takwa yang menjadi pembeda. diskriminatif menjadi pasif.

kedua. tidak cukup jadi ritual tetapi harus jadi sosial. idul kurban merupakan ritual agama tahunan. hewan kurban. wukuf. penyembelihan. tidak cukup, pak. kita harus jadi sosial, membumikan berkorban.  kalau tinggi badanmu masih tidak terlalu rendah kenapa tidak terputuskan untuk terus berkorban. kalau langit masih tidak berpeluk bumi, kenapa berkorban jadi sebuah antipati. kalau keringat masih teramat sedikit, berkorban harus jadi keharusan bukan sebuah pilihan.

ketiga. idul adha adalah perjuangan monoteistik dan humanistik menuju prinsip. saat ketika tuhan yang esa dipertanyakan, dikokohkan dengan ied. ketika saat semua ragu membimbang, ied ajarkan bahwa ada satu tuhan. ketika setiap orang merasa ada kebutuhan seorang,  ied ajarkan ada banyak orang yang kebutuhan. ya, ied ajarkan kita. tetaplah yakin dengan apa yang kau patok tepat menjadi prinsip. berprinsiplah. tepatilah. dapatilah.

akhir kata, tidak banyak.

kita minim berkorban dan banyak berpikir karenanya kita tidak banyak berubah.

jadikan ieduladha sebagai pemicu, pelontar, pengingat untuk terus selalu berkorban.

mari berkorban terus.

 semangat ied yang cukup ada. diatas (sedikit) semangat. petak barak nindya.

-maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar