masalah



lama rasanya tidak menulis lepas, ungkapkan rata setiap makna yang terpintas lintas menjadi kalimat kembali. saya senang, terlepas senang atau tidaknya yang lain membaca apa yang terkemuka di blog ini. senang karena, saya bisa lepas, tegas, tuntas menulis apa yang terpikir ataupun tidak, terkonsep ataupun tidak, terencanakan atau tidak, disini, di wadah penampung kata yang entah punya makna atau tidak juga.
sekarang, saya ingin bahas masalah. saya rasa kita bersepakat paham, atau bisa juga bersepaham makna bahwa setiap makhluk yang mengatasnamakan diri sebagai manusia mempunyai masalah. saya cuba buka kamus yang ada, masalah bisa terartikan perihal, soal, persoalan, problem. singkatnya mungkin seperti ‘sesuatu yang tidak sebagaimana mestinya’. ya, masalah adalah bagian, masalah adalah tahapan, atau bisa juga masalah adalah tantangan yang tidak mungkin terlepaskan dari manusia.
saya katakan pada kata sebelum bahwa, masalah itu ‘sesuatu yang tidak sebagaimana mestinya’. kadang pendefinisian masalah sendiri tidak perlu – entah sebenarnya perlu atau tidak – pendapat dari yang lainnya, manusia lain termaksud. kalau saya definisikan hari ini masalah tertentu, hari ini menurut yang lain belum tentu. karena itulah, subjektivitas masalah kadang menjadi kendala aktif. dan berpengaruh masif untuk seterusnya. benci menyaksikan secara mendasar hal ini, ketika subjektivitas masalah tak mau di intervensi, ketika subjektivitas itu ingin berdiri sendiri, ketika ia reaktif negative melihat dirinya terganggu, mari kita renovasi.
masalah sebenarnya bisa direduksi, secara aktif bahkan ketika ia filterisasi setiap argumentasi positif konstruktif. ketika kita membuka dan terbuka dengan apa yang menjadi pendapat yang lain, mungkin saja dia bisa tereduksi, walaupun tidak tertutup mungkin untuk tetap seperti itu. tapi yakinlah, input yang kita putuskan untuk masuk, akan berdampak banyak pada perspektif masalah atau apalah kau menyebutnya. namun sayangnya, kita tidak ingin sedikit terbuka, ataupun membuka, terhadap masalah yang kita menjadi miliknya. terkadang kita sedikit misteri, tertutup rapat, ataupun ‘merasa lebih’ terhadap yang kita punya. kita merasa bahwa, ‘masalah ini masalah saya’ - ‘enak saja berbicara, kau tidak ada di posisi saya’ – ‘ yang tahu penyelesaiannya, ya saya’ – ‘ini masalah besar, tidak seperti masalah.mu’. rentetan kalimat subjektivitas masalah itulah sebenarnya yang menjadikan kita pasif. pasif untuk menuju garis akhir dari masalah satu, menuju masalah selanjutnya yang pasti menyambut.
kita namakan dia ‘masalah berbagi’ ya bahasa lautnya ‘share p’ lah, kalau yang biasa share e, kita bahas ini mendalam. kadang kita perlu adanya pembukaan mata bahwa yang kita punya sebenarnya bukan yang terbesar yang ada. ketika kita tahu bahwa setiap masalah ada pada setiap manusia, dan masing-masing punya kadar, relativitas menurut gayanya, dan perspektif yang berbeda setiap padanya. kita definisikan besar belum tentu menjadi besar bagi kita. kita katakana rigid yakin saja masih ada yang mengatakan ia masih sederhana. ketika kita putuskan untuk masalah berbagi – terasa janggal sebenarnya – kita (diharap) mampu membuka mata bahwa pendefisian masalah bukan hanya milik saya, atau anda saja, tapi milik bersama. jangan kau katakan besar, kalau ia bisa terdefinisi kecil. jangan biarkan ia menjadi rigid ketika masih ada yang mengatakan masih sederhana. kita, saya dan anda dan yang lainnya akan menjadi kalah ketika kita dan masalah menjadi satu padu tak berbatas. kalah kita kalau biarkan dia terus menggerogoti tanpa upaya aktif pereduksian. kalah. sekali lagi kalah.
masalah siapa dan kepada siapa kita membagi-berbagi, itu terserah kita. toh, pendefinisan masalah saja menjadi subjektif, memilih siapa yang akan menjadi nampaknya juga seperti itu. pilih saja yang punya peluang, maka akan kau dapat positif itu.
tulisan lepas pintas ini sebenarnya tidak ada yang mendasar. membuka mata saja bahwa masalah itu adalah bagian yang tidak pernah terpisah dengan kita. terus reduksi dia, transformasikan menjadi peluang, tantangan sesuatu yang konstruktif. mari mari mencoba.
-maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar