egoisme masif

ya, egoisme masif. sedikit rentetan kata yang coba saya keluarkan dari barisan hemoglobin dan setiap oksigen yang saya gunakan tepat setiap hari. kalau mengatakan perkataan saya demokratis, saya hanya cukup tertawa rapat untuk menerimanya. padahal hati tetap. tetap pada masif yang rapat bernama ego. egoism mungkin menariknya.
ya, seperti inilah saya. kalau coba deskripsi aktif, egoism ini benar-benar padat, rapat dan melekat. setiap ucap, bisa egoisme. sikap, ya, egoisme. wah, apa lagi kalau pikir, merapat lekat. jangan harap saya reseptif apa adanya terhadap kamu, kalian. ah. jangan sembarangan juga definisikan saya menjadi kita atau kami, haha. aku terima begitu?mohon maaf. saya pastikan tidak, jelas tidak.
ya, kata orang saya bisa menerima, pendapat, sikap, polah, laku ataupun barang-barang apakah itu. ya, itu kata orang yang berkata dan mengatakan saja. menurut saya, ya sama saja. saya yang lebih utama. saya yang pertama. saya yang lebih bisa dan berbisa. saya. saya. dan sekali lagi saya. oh iya saya lupa. saya.
ya, terkadang saya memikirkan apa saya berlebihan melebihkan. ternyata tidak juga. yang lain juga perlahan merangkak mengikut sebagai pasukan besar untuk tunduk dalam keegoisan. wah, ternyata banyak juga. tidak sadar bahwa egoism itu akut, mengikut dan runtut. rentetan kritisi, saran atau nasihat lah katanya, itu pasif dan tidak akan pernah menjadi aktif dalam kata.ku. ketika ketiganya haruslah diolah, aku hanya berpolah.­­­­
-maidiyanto rahmat-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar